[Curhat] 20 Maret 2012


Hidup memang sulit.
Kapan aku pahami itu?
Sejalan waktu, aku hanya bisa bilang hidup memang sulit tanpa sebuah kepahaman.

Yang kurasa…

Ada yang ku ingin, tapi tak bisa kudapat.
Ada yang ku cita-citakan tapi tak mungkin.
Ada jalan, tapi selalu ada yang memberatkan untuk menembusnya.
Ada waktu baik, tapi tak mudah kumanfaatkan.
Ada candaan, tapi terkadang malah membuatku menangis.
Ada pujian, tapi terkadang seperti hianan yang teramat pedas. 
Ada senyuman, tetapi seakan berkata, “Orang macam apa kau, Ria?”.
Ada kejujuran, tapi seperti satu dari ribuan kebohongan.
Ada nyanyian, tapi menjerit memekak telinga.
Ada doa-doa, tapi entah oleh, untuk, dan kepada siapa.
Ada keberanian, tapi terlalu takut untuk sebongkah resiko.
Ada kasih saying, tapi terlalu banyak topeng kemunafikan.
Ada cinta, tapi terkadang sakit oleh pengkhianatan dan drama.

Itu yang membuat aku bisa berkata, hidup memang sulit.
Sungguh ku ingin menjadi manusia sebenarnya.

[Curhat] 22 Maret 2012


Aku tak tahu sedang apa kau disana.
Menunduk seakan tak ingin melihat wajahku.
Apa aku terlalu buruk?
Setiap kali aku berusaha menghilangkan kenangan itu, muncullah kau.
Jadi teringat lagi.

Aku tidak tahu kenapa ini terjadi.
Karena ingatan atau perasaan, aku benar-benar tidak mengerti.
Aku tidak berharap kamu disini, seperti dulu.
Seperti kala itu, masa-masa yang sungguh tidak terlupakan.

Bagaimana sekarang?
Bisa hilang?
Atau tidak?
Akan kucoba kenang itu, menjadi memori.
Atau mungkin serpihan.

[Curhat] 21 Maret 2012

Mereka menganggap diri mereka sempurna.
Dan mendapatkan apa yang mereka  mau, adalah hal biasa.
Apapun itu.

Aku percaya.

Mereka bisa dapat apapun.
Memakai apapun yang mereka mau.
Makan apapun yang mereka ingin.
Dan melakukan segala hal yang sensasional sekalipun.

Ahh, mungkin aku juga bisa.
Atau mungkin ada yang tidak bisa dia lakukan seperti aku.
Mungkin mereka tidak bisa tertawa seperti saat aku tertawa.
Mungkin mereka tidak bisa menunduk, seperti aku yang bersyukur.
Mungkin mereka tidak mampu menulis hal ini, dan cukup tahan malu mempublikasikannya.
Mungkin mereka hanya boneka, terlihat cantik dengan hal-hal tertentu.
Mungkin mereka bahagia saat melihatku merasa malu dengan diriku, tidak seperti aku yang tidak seperti itu.
Mungkin saja, tak ada yang lebih membahagiakan mereka selain menghina orang lain, dan kucoba biarkan mereka agar mereka bahagia.
Mungkin, mereka takut menangis karena malu dicemooh karena mereka seorang besar.
Mungkin mereka memilih menjadi mereka yang jahat, karena mereka tidak mampu menjadi baik seperti aku.
Mungkin, mereka SAKIT, dan tak suka melihat orang sehat.

Aku berfikir keras.
Aku ingin ada alasan mengapa mereka seperti itu.
Aku ingin mereka sama sepertiku.

Dari situ, aku percaya pada kata mungkin.
Mungkin yang benar-benar mungkin.